Senin, 16 Januari 2012

Amazing Dad

Cerita seorang ayah yang selama ini bekeja keras untuk anak-anaknya. Saya kenal beliau awalnya sebagai penjual nasi goreng keliling. Keluarga saya menjadi pelanggan tetapnya, karena selain enak nasi goreng buatannya, harganya juga paling murah diantara nasi goreng yang lainnya. Tahun dmi tahun berlalu, gatau kenapa si abang tukang nasi goreng itu gak lagi jualan keliling, tapi mangkal di ujung jalan komplek perumahan saya. Keluarga saya tetap jadi pelanggan setianya. Dan alhamulillahnya, karena dia mangkal di tempat itu, saya tidak pernah ketakutan lagi klo pulang skolah. Soalnya saat itu saya SMP dan pulang malam, nah turun angkotnya di deket si abang jualan.

Sampai saya SMA tu abang tetep betah jualan nasi goreng di ujung jalan. Sampe kira-kira saya lulus SMA, saya tidak lagi pernah liat si abang jualan. Dan saya denger dari mamah, ternyata si abang itu udah jadi tukang becak. Gatau kenapa, mungkin karena persaingan di dunia nasi goreng tak lagi mampu dia hadapi *apa dehh. Tahun terus berganti, setiap saya pulang ke rumah pas liburan semester kuliah, kalo liat tu abang, pasti dia lagi jadi kuli di rumah tetangga. Dan ternyata benar, sekarang dia bukan lagi tukang becak melainkan tukang bangunan yang kerja serabutan.
Dan hari ini, mamah membutuhkan bantuannya untuk benerin jalan depan rumah. Masih sama kayak dulu, tu abang tetep ramah dan enak diajak ngobrol. Nanya sekarang saya kuliahnya udah lulus belum #jleb trus cerita tentang keluarganya. Ternyata anaknya baru masuk kuliah di UNPAD jurusan Sastra Jepang. Wow! Saya kaget menyadari waktu sudah berjalan segitu cepatnya. Terakhir yang saya tahu, anaknya dulu masih SMP dan itu juga dia bingung mau gimana lg membiayai pendidikan anaknya. Dan yang membuat saya kagum adalah, anaknya kuliah disana gak bayar uang semesteran! Mungkin dapat beasiswa, tapi si abang gak tau darimana. Setau dia dari pemerintah aja. Dulu setelah lulus SMA si anak katanya dapat panggilan untuk tes. Subhanallah..
Senang skali saya mendengar cerita si abang itu. Maksudnya, saya kagum dengan cerita dia karena membayangkan anaknya yang sangat ingin lebih baik daripada bapaknya. Dan si bapakpun terus berjuang demi anak-anaknya. Si abang cerita, awalnya dia gk setuju tu anak kulaih di sana, "biaya dari mana?" gitu katanya. Tapi setelah liat anaknya yang benar-benar pintar dan berusaha, diapun semakin semangat untuk terus bekerja membiayai anaknya. Terakhir, si abang cerita anak terakhirnya pun tidak mau kalah dengan kakaknya, selesai SMA nanti (sekarang dia kelas XI) dia punya cita-cita mau kuliah di UI. Subahanallah..
Itulah, mengapa saya yakin bahwa Allah tidak akan membayar murah atas semua usaha kita. Tinggal kita yang jangan putus asa dan patah semangat untuk menggapai mimpi kita. Beruntungnya si anak punya bapak yang benar-benar pantang menyerah dan tidak berpangku tangan. Dan si bapak juga pasti sangat bangga akan anak-anaknya yang tidak takut bermimpi walaupun mereka bukan termasuk orang yang 'lebih'.
Dan saya juga merasa sangat beruntung punya papa yang juga kuat dan pekerja keras. Di umurnya yang sudah berkepala 6 ini, papa masih terus bekerja keliling Indonesia untuk menjemput rezeki buat anak-istrinya. Papa rela jarang pulang dan berkumpul di rumah bersama keluarga demi menghidupi kami. Alhamdulillah papa masih lebih beruntung dari abang tukang nasgor. Harusnya sekarang papa di rumah saja, memperhatikan anak-anaknya bekerja dan tidak perlu berpikir keras lagi untuk hidupnya. Tapi itulah papa saya, dan mungkin itu juga perasaan semua papa di dunia. Tidak akan berhenti berusaha untuk membahagiakan anak-anaknya.
Bahagialah untuk semua papa di manapun berada. Atas segala usahanya, atas semua kerja kerasnya. Semoga semua laki-laki mampu menjadi papa yang hebat bagi anak-anaknya. Dan semoga suatu hari nanti saya bisa hidup dengan seorang laki-laki yang juga hebat untuk saya dan anak-anak kami. Seorang laki-laki yang tidak pernah menyerah untuk bahagia. Aaaamiiin Yaa Rabbal'alamiin ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagaimana?